Senin, 25 April 2011

THE CELEBERATION OF KARTINI’S DAY
BY : FIANTY,S.Pd

Hai Pembaca setia Proleco, semoga kita  masih punya semangat untuk menatap hidup ini dengan energi yang positif. Dalam edisi kali ini penulis ingin menyampaikan sudut pandang dari sebuah perjalanan sejarah kewanitaan di Indonesia. Wanita yang memelopori perjuangan emansipasi, kesetaraan derajat dalam pendidikan dan sosial. Kartini. Ya “Kartini”  Beberapa ratus tahun yang lalu sosok wanita Jawa ini memiliki semangat untuk memperjuangkan hak kecerdasan wanita yang belum dipandang positif pada masa itu. Kecenderungan perlakuan kepada wanita hanya sebatas pendamping dan pertumbuhan generasi baru dengan tidak diberdayakan intelektualnya yang merupakan hak bagi wanita untuk menikmati hidup yang selaras dan mampu menjadi motivator yang piawai dalam keluarga.
21 April wanita Jawa ini dilahirkan dan beranjak dewasa dengan kecerdasan yang akhirnya memberikan dampak pengukiran sejarah perjuangan kewanitaan di Indonesia. Sesungguhnya, banyak teladan dari para Kartini lain yang lebih dahulu dapat dijadikan simbolisasi emansipasi wanita dengan kelembutan . Sebut saja dalam sejarah Islam , Siti Khadijah , istri dari baginda Rasulullah, seorang wanita kaya berkasta dalam zamannya tumbuh sebagai pedagang sukses. Dari sisi kehidupannya kita melihat wanita yang kuat, cerdas, dan penuh kelembutan. Satu hal yang memesona baginda Rasulullah adalah kepiawaiannya dalam membangun usaha namun tetap menjaga kodratnya sebagai wanita. Pendampingan Rasulullah terhadap Siti Khadijah menjadi inpirasi tercetusnya sebuah emansipasi wanita yang tidak meninggalkan kodratnya. Islam memandang emansipasi wanita sebenarnya adalah sebuah penghormatan terhadap kaum wanita yang diantara kelembutannya, mempunyai kekuatan dan kecerdasan yang dapat disandingkan dengan kaum lelaki untuk mendidik generasi baru. Dalam surat Annisa : 34, Allah berfirman: "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagain dari harta mereka. Sebab itu maka wanita saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri."
Simbolisasi Kartini dalam emansipasi di Indonesia senantiasa selalu menjadi sebuah perayaan rutinitas dan terpatri dalam kalendar nasional. "21 April Hari Kartini". Fenomena yang terjadi dalam kurun waktu belakangan ini keteladanan dari emansipasi wanita telah bergeser nilainya. Emansipasi yang diharapkan sudah tidak sesuai dengan semangat Kartini tempo doeloe. Kelembutan dan kodrat sebagai wanita telah terkalahkan dengan egoisme. Kecenderungan untuk berkompetisi dengan kaum lelaki sangat tinggi namun berujung pada ketidakharmonisan sebuah hubungan. Padahal yang diharapkan dari keteladanan para Kartini pendahulu emansipasi wanita sebagai motivator keselarasan kehidupan yang dinamis yang dibangun secara bersama-sama dengan tujuan menciptakan generasi yang cerdas dan mumpuni.
Kita sebagai pendidik kiranya harus mengubah sudut pandang generasi muda saat ini, yang hanya meneladani perjuangan "Kartini" dengan sebuah perayaan,  mengenakan kebaya plus make up, disertai  lomba-lomba yang cenderung belum mewakili sebuah keteladanan yang berarti. Ada hal yang menggelitik dalam hari Kartini  tahun ini. Perayaan di stasiun televisi sangat menarik perhatian penulis, kedinamisan dari emansipasi wanita tampak jelas dengan balutan kain dan kebaya mampu menari dengan lincahnya, seakan meruntuhkan simbol kefeodalan. Dalam sudut pandang penulis ingin sekali menemukan sebuah peringatan hari Kartini yang sungguh mewakilkan ikon wanita yang berkarakter, berbudaya, cerdas, dan tidak meninggalkan kodratnya. Sebuah peringatan yang menyuarakan kembali sejarah emansipasi yang sebenarnya, perenungan, dan keteladanan. Semoga di era berikutnya kita akan menjumpai keteladanan dari Kartini yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar